IMG-20260121-WA0020

Lampung Tengah – Rapat persiapan Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Lampung Tengah yang digelar Selasa, 20 Januari 2025, menyisakan tanda tanya besar. Agenda internal partai yang hanya dihadiri sekitar 35 orang peserta itu justru dijaga ketat oleh aparat keamanan.

Pantauan di lokasi menunjukkan, sedikitnya sekitar 40 personel kepolisian disiagakan untuk mengamankan jalannya rapat. Tak hanya itu, puluhan orang berpakaian preman yang diketahui bukan bagian dari struktur resmi Partai Golkar juga terlihat berada di sekitar lokasi kegiatan.

Kondisi ini dinilai tidak lazim. Rapat internal partai politik pada umumnya berlangsung tertutup dan kondusif, tanpa pengamanan berlapis serta kehadiran pihak-pihak di luar struktur kepengurusan. Fakta di lapangan ini pun memunculkan spekulasi: apa yang sebenarnya sedang terjadi di tubuh DPD II Partai Golkar Lampung Tengah?

Pengamanan ketat tersebut dinilai mencerminkan adanya kekhawatiran akan potensi gesekan internal. Apalagi, rapat ini digelar di tengah dinamika kepengurusan Golkar Lampung Tengah yang belakangan menjadi sorotan, khususnya setelah Musa Ahmad dinonaktifkan dan posisi Ketua DPD II diisi oleh Toni Eka Candra sebagai Pelaksana Tugas (Plt.).

Meski belum ada pernyataan resmi yang secara eksplisit mengaitkan penjagaan ketat tersebut dengan pergantian Plt. Ketua, namun suasana rapat yang terkesan “tidak biasa” memperkuat dugaan bahwa konsolidasi internal Golkar Lampung Tengah belum sepenuhnya solid menjelang Musda.

Hingga berita ini diturunkan, pihak DPD II Partai Golkar Lampung Tengah belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan pengamanan ketat, kehadiran aparat dalam jumlah besar, maupun keberadaan pihak-pihak non-struktural di sekitar lokasi rapat. Upaya konfirmasi kepada pengurus partai masih terus dilakukan.

Publik kini menanti keterbukaan Partai Golkar Lampung Tengah. Sebab, Musda bukan sekadar agenda rutin, melainkan forum penting untuk menentukan arah kepemimpinan dan masa depan partai di daerah. Transparansi dan kondusivitas menjadi kunci agar dinamika internal tidak berujung pada krisis kepercayaan publik.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Rakyat Indonesia. All rights reserved. | Best view on Mobile Browser | ChromeNews by AF themes.