IMG-20260906-WA0015

LAMPUNG TENGAH — Gunung boleh mengirim abu. Tapi jangan sampai pemerintah ikut menambah “debu” lewat birokrasi yang lambat dan pembangunan yang jalan di tempat.

Pemuda Lampung Tengah, Yoki Satria, melontarkan kritik keras. Menurutnya, Lampung Tengah adalah tanah yang diwariskan leluhur dan harus dijaga dengan kerja nyata, bukan sekadar janji dan seremoni.

“Kita ini hidup di tanah warisan nenek moyang. Jangan sampai kualat karena diberi amanah, tetapi rakyat justru dibiarkan menunggu,” tegas Yoki.

Menurutnya, masyarakat tidak meminta kemewahan. Rakyat hanya ingin jalan bagus, petani diperhatikan, sekolah dan puskesmas layak, pelayanan cepat, serta uang rakyat benar-benar kembali kepada rakyat.

Ia mengingatkan nilai Piil Pesenggiri bukan sekadar semboyan. Harga diri harus terlihat dari keberanian menjaga amanah dan membangun daerah.

“Kalau anggaran sudah ada, kerjakan. Kalau terlambat, jelaskan. Kalau ada masalah, buka kepada rakyat. Jangan anggarannya berlari, tapi pembangunannya merangkak.”

Yoki juga meminta persoalan hukum tidak dijadikan alasan birokrasi berhenti bekerja.

“Yang salah, hukum. Yang benar, lanjutkan. Jangan sampai karena takut, satu kabupaten ikut direm. Rakyat tidak boleh menjadi korban.”

Menurutnya, pemerintah cukup membuktikan tiga hal:

Buka anggarannya. Tunjukkan progresnya. Buktikan hasilnya.

Yoki menegaskan ini bukan persoalan siapa yang berkuasa. Pemerintahan datang dan pergi, tetapi tanah Lampung tetap diwariskan kepada anak cucu.

“Jabatan itu sebentar. Tanah Lampung akan tetap di sini. Jangan sampai kita kualat kepada leluhur karena meninggalkan masalah kepada anak cucu. Kalau benar mencintai Lampung Tengah, buktikan dengan kerja!” pungkas Yoki.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Rakyat Indonesia. All rights reserved. | Best view on Mobile Browser | ChromeNews by AF themes.